[FICLET] TOO TIRED- by DantExo

too

 

DantExo StoryLine Presented

Main cast :

Kim Jongin | Lee Hyera | Kim Chanyoon | Kim Yoonjae

PG-17 | Family, Marriage life, Romance

Disclaimer :

Ide cerita, alur dan semuanya milik aku.

Halal dan murni.

Jika ada kesamaan dalam ide maupun alur, itu memang tidak di sengaja dan aku tidak tahu menahu..

DONT BE A PLAGIATOR AND SIDERS!

MAAF KALO BANYAK TYPO YA^^

PLEASE LEAVE YOUR COMMENT AND LIKE ^^

Already Posted in here

.

.

.

Happy Reading^^

I Hope You Like It

.

.

.

“Aku pulang.”

Jongin baru saja melangkah memasuki kediamannya yang kini terlihat gelap. Mata elangnya sedikit melirik arloji dipergelangan tangan kirinya. Sudah pukul 10 malam. Jongin kira hal itu menjadi wajar karena ia bisa memastikan bahwa istri dan anaknya sudah berada di kamar untuk istirahat.

Menghela napas, pria bermarga Kim tersebut kembali melanjutkan langkahnya. Merasa tenggorokannya sedikit mengering, maka dia memutuskan untuk pergi ke dapur sebelum beranjak menuju kamarnya dan beristirahat.

Dia sedikit terkejut saat mendapati seorang wanita tengah duduk tenang di salah satu kursi meja makan. Matanya dengan serius menetap layar macbook di tangan, sementara tangan yang lain tengah asyik menyuapkan es krim ke dalam mulutnya. Jongin pikir perkiraannya tadi cukup meleset.

“Hyera-ya.”

Yang dipanggil sontak menoleh, sedikit terkejut saat menyadari bahwa tubuh Jongin kini telah berada di sampingnya. Hyera mendongak menatap wajah lelah sang suami yang berada di atasnya, menjulurkan tangannya lalu mengusapnya perlahan. Jongin hanya tersenyum tipis sambil terus menatap manik madu milik Hyera.

“Kau tidak menyadarinya?”

“Maaf. Mungkin aku terlalu serius.”

“Selalu begitu. Jika sudah melakukan sesuatu, maka kau tidak akan menghiraukan yang lain.”

Jongin mendudukkan diri di samping Hyera. Dia sedikit menyandarkan punggungnya, melepas dasi yang sudah tidak terpasang rapi di kerah bajunya, berikut menggulung lengan kemeja hitamnya sebatas siku. Pria satu itu menghela napas cukup kasar lalu sedikit melirik ke arah Hyera.

“Apa yang sedang kau lakukan hingga selarut ini, Hye-ya?”

Terlebih dulu Hyera mengangkat macbook-nya ke arah Jongin lalu berkata, “Hyuri eonnie yang memberitahuku. Jadi aku tertarik untuk melihat koleksi baju bayi yang ada di sini.”

Dahi Jongin mengerut saat melihat jejeran gambar baju bayi beraneka warna dan model terpampang di layar macbook itu. Dan setelah mendapat penjelasan lebih lanjut dari mulut sang istri, barulah dia tahu bahwa istrinya tengah melihat-lihat koleksi salah satu toko online.

“Sejak kapan kau suka belanja online?” tanya Jongin.

“Aku tidak berniat membeli, hanya melihat-lihat saja. Lagipula aku masih memiliki cukup waktu untuk datang ke toko baby stuff.”

Jongin mengangguk. Pria itu kembali memejamkan matanya saat denyutan yang dia rasakan di kepala kembali terulang. Ini bukanlah hal serius. Sejak keluar dari kantor tadi, kepalanya memang sedikit pusing. Mungkin karena dia terlalu banyak memikirkan pekerjaan, belum lagi urusan-urusan lain yang terkadang harus membuatnya berpikir keras.

Setiap saat terkadang Jongin mengeluh, dia sudah terlalu lelah untuk terus hidup seperti ini. Tapi bagaimana bisa dia melakukan hal tersebut sementara itu sudah menjadi sebuah kewajiban dan tanggung jawabnya?

“Anak-anak sudah tidur?”

“Ya.”

“Apa mereka menjadi anak penurut hari ini?”

“Ya untuk Chanyoon, tapi tidak untuk jagoan kecilmu itu.” Hyera meletakkan macbook-nya, kembali menyuapkan satu sendok penuh es krim coklat dari mangkuknya ke dalam mulut, “Dia terus menangis seharian ini.” ada nada frustasi yang Jongin dengar disana.

“Yoonjae sakit?”

“Tidak.” Hyera membenarkan posisi duduknya, “Entahlah. Yoonjae sangat rewel hari ini. Biasanya dia akan tidur berjam-jam, tapi sampai sore tadipun dia sama sekali tidak mau tidur. Selalu minta di gendong lalu menangis tanpa alasan yang jelas.”

Jongin tertegun. Membayangkan bagaimana repotnya Hyera ketika harus mengurus rumah dan kedua anak mereka pasti sangatlah sulit. Jongin sadar itu memang sudah menjadi kewajiban Hyera. Akan tetapi, jika hal itu terus dia dengar dan nada bicara Hyera seperti tengah mengeluh, Jongin tidak tega.

Dia sama sekali tidak menyalahkan Hyera yang terkadang mengeluh padanya, karena bagaimana pun juga seseorang pasti memiliki tingkat kejenuhan. Pasti ada kalanya manusia merasa jenuh dan lelah dengan apa yang menjadi rutinitasnya selama ini. Bahkan dia tengah mengalaminya kali ini.

“Kau lelah?”

Hyera mengulas senyumnya saat mendapati raut khawatir sang suami, “Bagaimana bisa aku mengatakan hal itu? Ini sudah menjadi tanggung jawabku, Jongin-ah.”

“Terimakasih.”

“Untuk apa?”

Jongin meraih sebelah tangan Hyera, mengecup punggung tangan seputih porselen itu lalu beralih mengecup dahi sang istri.

“Kau sudah berkorban begitu banyak untuk anak-anakku. Melahirkan Yoonjae, mengurusnya bahkan sekalipun kau merasa jenuh dan sangat lelah. Itu adalah hal paling menakjubkan yang kulihat darimu.”

“Kau benar. Terkadang aku merasa lelah, bosan untuk hidup seperti ini. Aku juga ingin sesekali kembali ke masa lalu, dimana aku adalah seorang gadis lajang yang bisa melakukan semua hal sesuka diriku. Tapi setelah melihat bagaimana raut bahagia Chanyoon dan Yoonjae, maka semua itu akan menghilang. Bahkan rasanya senyuman dan tawa riang mereka menjadi pasokan energi tersendiri untukku.”

Ya. Mereka sadar itu memang sudah menjadi resiko ketika memutuskan untuk menikah dan hidup sebagai orang tua dalam sebuah keluarga. Jongin tahu bagaimana posisi mereka masing-masing dan tetap berusaha untuk menempatkan porsi mereka secara adil. Dia juga tidak mau terlalu membebankan Hyera untuk urusan anak-anak.

Sesekali ingin rasanya Jongin ikut membantu mengurus Chanyoon dan Yoonjae di rumah. Tapi apa daya, terkadang pekerjaannya tidak bisa diajak kompromi. Bahkan tak jarang, di akhir pekanpun Jongin harus rela menghabiskan waktunya di ruang kerja daripada mengajak kedua putranya bermain bersama.

“Sudah larut. Sebaiknya kita istirahat sekarang.” Hyera buru-buru mematikan macbook-nya lalu beranjak untuk mencuci mangkuk es krimnya yang sudah kosong.

“Bisa tolong buatkan aku teh hangat?” pekik Jongin.

“Tentu. Pergilah dulu ke kamar, aku akan membawakannya.”

Setelah mendengar jawaban Hyera, Jongin segera beranjak menuju kamarnya. Rasa lelah yang dia rasakan sedikit berkurang saat melihat sesosok bayi mungil yang tengah tertidur di baby box dekat ranjangnya.

Semenjak Yoonjae lahir, Hyera memang tidak bisa membiarkannya begitu saja tidur di kamar terpisah. Hyera lebih suka jika meletakkan baby box milik Yoonjae di kamar mereka. Dia bilang itu akan lebih memudahkannya jika tiba-tiba Yoonjae menangis di tengah malam.

“Hei, jagoan kecil.”

Jemari besar Jongin mengusap pipi gembul Yoonjae yang kini sudah tertidur pulas. Bayi laki-laki berusia 8 bulan itu tampak lelap. Matanya tertutup rapat, bibirnya yang mungil sedikit mengerucut, pipinya bulat, begitu pula wajahnya. Perpaduan antara Jongin dan Hyera sangat terefleksi dalam rupa Yoonjae.

Diam-diam Jongin tersenyum. Memang benar apa yang dikatakan Hyera. Selelah apapun tubuhnya, ketika melihat wajah damai Yoonjae maka semua itu akan lenyap seketika. Bahkan saat ini, Jongin kembali merasa bersemangat. Rasa lelahnya sudah menghilang, tergantikan oleh perasaan hangat yang tiba-tiba mengusik hatinya.

Jongin tidak menyangka jika hidupnya sudah berjalan sejauh ini. Kini dia memiliki sebuah keluarga kecil yang bahagia, memiliki istri yang begitu dia cintai dan juga dua putra tampan yang melengkapi hidupnya. Terlepas dari masa lalu yang pernah dia alami, semuanya terasa begitu membahagiakan hingga rasanya Jongin tidak ingin kehilangan salah satu dari mereka.

“Ayah sudah pulang.” Satu kecupan dia berikan di pipi Yoonjae. Bayi itu sedikit menggeliat tapi tidak membuka matanya. Jongin tersenyum lega. Dia mengulurkan tangannya untuk membenarkan posisi selimut Yoonjae. Setelah dirasa cukup, Jongin beralih mendudukkan diri di ranjang.

“Ini tehmu.”

Hyera muncul dari balik pintu membuka satu cangkir putih. Wanita itu meletakkannya di meja nakas, membiarkan Jongin menikmati tehnya sendiri sedangkan dia berlalu menuju kamar mandi. Tak lama kemudian, dia kembali dan mendapati Jongin sudah siap dengan handuknya.

“Terimakasih tehnya.” Ucap Jongin saat Hyera keluar dari kamar mandi.

“Ya.” Hyera mengulas senyumnya, “Air hangatnya sudah siap. Mandilah.”

Jongin mengangguk. Dia terlebih dulu mengecup sekilas pipi sang istri sebelum menghilang di balik pintu kamar mandi. Menikmati setiap waktu ketika Hyera melayaninya dengan baik, membuat Jongin begitu bahagia. Hyera telah menjadikan Jongin sebagai seorang suami paling beruntung di dunia ini. Wanita itu melayani semua kebutuhan Jongin dari pagi hingga larut tanpa sedikitpun mengeluh. Dan hal itu menjadi nilai plus dimata Jongin.

Pintu kamar mandi kembali terbuka menyisakan Jongin dengan setelan baju tidurnya—kaos hitam tanpa lengan dan celana training panjang. Wajahnya terlihat sangat segar, wangi tubuhnya yang sangat maskulin pun begitu menusuk indera penciuman. Pria satu itu berjalan ke arah ranjang. Atensinya menuju Hyera yang tengah terduduk di atas ranjang dengan Yoonjae yang berada dalam gendongannya. Rupanya Yoonjae terbangun dan Hyera tengah menyusuinya saat ini.

“Kau sangat lapar hm?” desis Jongin duduk di samping Hyera. Dia memperhatikan bagaimana mulut Yoonjae menyedot dengan kuat ASI yang keluar dari payudara Hyera. Terlihat menggemaskan.

“Mungkin dia lelah setelah seharian ini menangis. Bahkan tidak sempat meminum susu sebelum tidur tadi.” Jelas Hyera.

“Jadi.. Yoonjae tertidur tanpa menyusu terlebih dulu tadi?”

“Ya. Menakjubkan bukan?”

“Sangat.”

Selama ini yang Jongin tahu ritual Yoonjae sebelum tidur adalah menyusu pada ibunya. Dia kira itu adalah hal yang wajar bagi seorang bayi. Tapi Jongin sedikit terkejut saat mendengar penuturan Hyera. Bagaimana bisa Yoonjae tertidur begitu saja tanpa menyusu terlebih dulu? Pasti putra kecilnya itu sangat kelelahan bahkan untuk sekedar meminum susunya.

“Aku heran, kenapa bayi sangat suka meminum ASI? Padahal rasanya sangat tidak enak.” Tiba-tiba saja perkataan tersebut keluar dari mulut Jongin.

Hyera mengernyitkan dahi tidak mengerti maksud suaminya.

“Maksudku…. yaaa.. terkadang aku tidak sengaja meminum ASI-mu saat kita sedang…..”

“Cukup!” Hyera segera membungkam mulut Jongin, “Berhenti mengatakan hal-hal tidak pantas saat ada anak-anak di sekeliling kita, Kim Jongin.” Matanya mendelik ke arah Jongin.

“Oke.” Jongin mengedipkan sebelah matanya jahil. Dia tahu, ini adalah salah satu hal yang menyenangkan untuk menggoda Hyera. Senyuman jahilnya kian melebar saat melihat rona merah di sekitar pipi Hyera. Tentu Hyera tahu apa lanjutan dari ucapannya tadi.

“Jangan membayangkannya lebih lanjut, sayang.” Godanya kembali.

“Diam kau!” ketus Hyera.

Dia kembali meletakkan Yoonjae di baby box saat mengetahui bayi tersebut sudah kembali tertidur lelap. “Selamat malam, sayang.” Hyera tersenyum sekilas lalu mengecup pipi gembul Yoonjae.

“Kepalaku sedikit pusing.” Erang Jongin sesaat setelah membaringkan diri.

“Kenapa?” Hyera menyusul sang suami untuk ikut berbaring bersama. Tangannya tergerak untuk membenarkan posisi selimut hingga menutupi sebagian tubuh mereka dengan sempurna.

“Tidak tahu.”

Niat Hyera untuk segera memejamkan mata batal saat Jongin menarik tangannya lalu meletakkannya di atas dahi. Hyera mengernyit bingung.

“Panas tidak?” tanya Jongin.

Hyera diam sebentar, merasakan suhu tubuh Jongin melalui punggung tangannya, “Tidak.” Setelah itu dia segera menarik tangannya. Dia menoleh menatap wajah Jongin yang berada di sampingnya. Hyera juga tidak mengerti kenapa Jongin mengeluh pusing padahal suhu tubuhnya normal. Itu berarti dia tidak demam.

“Tidak nyaman jika harus tidur dalam keadaan kepala berdenyut, Hye-ya.”

Hyera terdiam sejenak lalu mengisyaratkan Jongin untuk mendekat.

“Kemarilah.” Dengan perlahan dia menarik tubuh Jongin untuk dia peluk. Mendorong pelan kepala hitam sang suami agar bersandar nyaman di atas dadanya. Hyera mengusap pelan rambut Jongin dan juga punggungnya yang lebar.

Diperlakukan seperti itu, tentu saja Jongin tidak mengelak. Awalnya dia tidak mengerti maksud Hyera, tapi lama-kelamaan dia mulai paham. Ini adalah cara yang Hyera lakukan untuk mengurangi rasa sakit yang mendera kepalanya.

“Mungkin kau terlalu lelah akhir-akhir ini hingga kepalamu terasa pusing.”

Jongin hanya bergumam. Dia membalas dengan memeluk pinggang Hyera, menyandar kepalanya lebih dalam di dada sang istri yang terasa nyaman dan hangat. Jongin merasa menjadi bayi kembali saat diperlakukan seperti ini.

“Terimakasih. Aku jadi mengerti kenapa Yoonjae sangat suka dipeluk seperti ini olehmu.”

“Memang kenapa?” Hyera balik bertanya.

“Rasanya nyaman.” Ucapnya pelan.

Hyera masih mengelus kepala dan punggung Jongin. Sesekali memberi pinjatan kecil di tengkuk Jongin. Dia sama sekali tidak mempermasalahkan kenyataan bahwa tubuh Jongin sangat berat saat menimpanya seperti ini. Hyera hanya melakukan sesuatu yang kecil untuk membuat suami tercintanya merasa nyaman dan bisa beristirahat dengan tenang.

“Kalau begitu, cepat pejamkan matamu. Selamat tidur, Jongin-ah.”

“Aku mencintaimu, Hye-ya.”

END

 

 

Cheapest Ebooks – Where to Find Them and How

This article provides information to the readers about the places from where ebooks can be bought on the cheap rates. It enlists the sources that can be utilized for downloading inexpensive digital versions of paperback books.

[Other - Unsorted] Kill Your Friends (2015).720p.BluRay.x264.YIFY

Category: Other – Unsorted, Size: 707.89 Mb,
Status: 0 seeder, 0 leecher.
Hash: 110d6527d6cc0be454a8ab5138ea257dc08a9289

HAWAII Magazine – November-December 2014

HAWAII Magazine - November-December 2014

HAWAII Magazine – November-December 2014
English | 94 Pages | PDF | 54.70 Mb